Selasa, 26 Oktober 2010

KOMPUTER


Komputer adalah alat yang dipakai untuk mengolah data menurut prosedur yang telah dirumuskan. Kata computer semula dipergunakan untuk menggambarkan orang yang perkerjaannya melakukan perhitungan aritmatika, dengan atau tanpa alat bantu, tetapi arti kata ini kemudian dipindahkan kepada mesin itu sendiri. Asal mulanya, pengolahan informasi hampir eksklusif berhubungan dengan masalah aritmatika, tetapi komputer modern dipakai untuk banyak tugas yang tidak berhubungan dengan matematika.

Dalam arti seperti itu terdapat alat seperti slide rule, jenis kalkulator mekanik mulai dari abakus dan seterusnya, sampai semua komputer elektronik yang kontemporer. Istilah lebih baik yang cocok untuk arti luas seperti "komputer" adalah "yang mengolah informasi" atau "sistem pengolah informasi." Selama bertahun-tahun sudah ada beberapa arti yang berbeda dalam kata "komputer", dan beberapa kata yang berbeda tersebut sekarang disebut disebut sebagai komputer.

Kata computer secara umum pernah dipergunakan untuk mendefiniskan orang yang melakukan perhitungan aritmatika, dengan atau tanpa mesin pembantu. Menurut Barnhart Concise Dictionary of Etymology, kata tersebut digunakan dalam bahasa Inggris pada tahun 1646 sebagai kata untuk "orang yang menghitung" kemudian menjelang 1897 juga digunakan sebagai "alat hitung mekanis". Selama Perang Dunia II kata tersebut menunjuk kepada para pekerja wanita Amerika Serikat dan Inggris yang pekerjaannya menghitung jalan artileri perang dengan mesin hitung.

Charles Babbage mendesain salah satu mesin hitung pertama yang disebut mesin analitikal. Selain itu, berbagai alat mesin sederhana seperti slide rule juga sudah dapat dikatakan sebagai komputer.

Sekalipun demikian, definisi di atas mencakup banyak alat khusus yang hanya bisa memperhitungkan satu atau beberapa fungsi. Ketika mempertimbangkan komputer modern, sifat mereka yang paling penting yang membedakan mereka dari alat menghitung yang lebih awal ialah bahwa, dengan pemrograman yang benar, semua komputer dapat mengemulasi sifat apa pun (meskipun barangkali dibatasi oleh kapasitas penyimpanan dan kecepatan yang berbeda), dan, memang dipercaya bahwa mesin sekarang bisa meniru alat perkomputeran yang akan kita ciptakan di masa depan (meskipun niscaya lebih lambat). Dalam suatu pengertian, batas kemampuan ini adalah tes yang berguna karena mengenali komputer "maksud umum" dari alat maksud istimewa yang lebih awal. Definisi dari "maksud umum" bisa diformulasikan ke dalam syarat bahwa suatu mesin harus dapat meniru Mesin Turing universal. Mesin yang mendapat definisi ini dikenal sebagai Turing-lengkap, dan yang pertama mereka muncul pada tahun 1940 di tengah kesibukan perkembangan di seluruh dunia. Lihat artikel sejarah perkomputeran untuk lebih banyak detail periode ini. Baca lebih lengkap disini


Bagian-bagian Komputer Personal.
1: Monitor
2: Mother
board

3: Prosesor

4: Slot ATA
5: RAM (Memori Akses Acak)
6: Slot PCI
7: Catu Daya
8: Tempat cakram optik
9: Hard Disk
10: Keyboard
11: Mouse


Background Orange


Apa itu Public Speaking?

ist2_2122524_fear_of_public_speakingSebuah kata yaitu public speaking akhir-akhir ini sering terdengar di kupingku. Pada sebuah acara The Master kalo tidak salah Mas Dedy juga pernah memberikan komentar tentang public speaking yang dilakukan oleh peserta The master. Seorang peserta The Master pun ternyata sangat dituntut meiliki kemampuan public speaking yang baik agar pertunjukannya menjadi lebih hebat.

Selain itu sedikit demi sedikit aku mulai menyadari bahwa profesi yang aku geluti sekarang juga mungkin menuntut kemampuan public speaking. Tuntutan frofesi yang sangat berbeda jika dibandingkan pekerjaanku sebelum ini. Sebelum menggeluti profesi ini aku lebih sering duduk dan berkutat dengan kertas-kertas, setelah selesai lalu kuserahkan pada atasan. Hem… mungkin karena itu kemampuan public speaking-ku rendah. Atau mungkin juga karena kharekterku yang sudah seperti itu. Ini dugaanku sebelumnya..

Karena penasaran dengan public speaking itu pula, pagi ini aku mencoba mencari tulisan-tulisan yang membahas tentang masalah itu.

Apa itu public speaking?

Publik speaking adalah proses berbicara kepada sekelompok orang secara sengaja serta ditujukan untuk menginformasikan, mempengaruhi, atau menghibur pendengar. Seni dan ilmu publik speaking khususnya di lingkungan yang kompetitif di Amerika Utara, juga dikenal sebagai forensics. Kata forensik adalah sebuah kata sifat yang berarti “perdebatan umum atau argumen.” Kata tersebut berasal dari bahasa Latin forensis, yang berarti “dari forum.”

Tujuan utama dari publik speaking dapat dicapai dengan penyampaian informasi dengan sederhana sehingga dapat memotivasi orang untuk bertindak. Seorang orator yang bagus dapat mengubah emosi pendengar mereka, tidak hanya menginformasikan kepada mereka.

Publik speaking memiliki beberapa komponen yang berkaitan seperti Motivasi berbicara, kepemimpinan/pengembangan pribadi, bisnis, layanan pelanggan, komunikasi kelompok besar, dan komunikasi massa. Publik Speaking bisa menjadi alat yang jitu jika digunakan untuk keperluan seperti memotivasi, mempengaruh, membujukan, menginformasikan, menterjemah, atau sekedar menghibur.

Public speaking atau berbicara di depan publik bagi sebagian orang merupakan hal yang berat dan sukar, bahkan jika perlu dihindari. Ada juga yang beranggapan bahwa public speaking bukanlah bagian dari jalan hidupnya, biarlah orang lain yang memang berbakat untuk menjadi pembicara yang melakukannya.

Apakah public speaking adalah persoalan bakat? Tidak. Setiap orang punya bakat yang sama untuk berbicara, tinggal bagaimana orang tersebut mengembangkannya.

Dapatkah orang yang pendiam/introvert menjadi pembicara yang ulung? Tentu saja bisa. Pendiam hanyalah soal pembawaan. Banyak pemimpin yang berpembawaan diam, namun saat berorasi berapi-api dan mampu mengobarkan semangat.

Kunci dari public speaking adalah latihan. Saat ini, mulailah berlatih untuk berbicara di depan kelas saat ada kesempatan. Dengan latihan dan memperbaiki diri terus menerus, maka kemampuan untuk dapat berbicara di depan umum akan semakin meningkat. Ingat! Jangan berputus asa atau gampang menyerah manakala Anda merasa bahwa pembicaraan Anda tidak/kurang bagus.

Sumber : http://en.wikipedia.org/wiki/Orators, http://id.wikibooks.org/wiki/Kurikulum_Kepemimpinan/Public_Speaking

Di samping tulisan di atas ada baiknya kamu membaca InterMatrix Public mCourse di webnya Wimar Witular.

Pancasila VS ISLAM

Beberapa rekan di milis banyak menanyakan dan ngotot bahwa Pancasila yang telah di Amandemen sejalan dengan Islam.


Disini saya pertama akan menyatakan bahwa ilmu syariat yang ada dalam Islam mencakup masalah ilmu tafsir, ilmu hadist, ilmu fiqh, ilmu usul fiqh, ilmu kalam.

Kemudian sebelum saya mencari apa yang ada dalam pancasila itu, perlu juga saya jelaskan disini darimana itu rincian pancasila datangnya dan siapa yang mula-mula mengajukan ide dan konsep pancasila itu.

Nah untuk masalah ini, perlu kita mundur kebelakang kewaktu ketika BPUPK (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan) atau Dokuritzu Zunbi Cosakai yang terdiri dari 62 anggota dengan ketuanya Dr Rajiman Widiodiningrat yang dibentuk dan dilantik oleh Jenderal Hagachi Seisiroo seorang jenderal Angkatan Darat Jepang bersidang dari tanggal 28 Mei sampai dengan 1 juni 1945.

Dalam sidang BPUPK pada tanggal 1 juni 1945, dipersilahkan kepada Soekarno untuk menyampaikan pidatonya. Ternyata isi pidato Soekarno itu berisikan konsepsi usul tentang dasar falsafah negara Indonesia yang diberi nama pancasila. Setelah diteliti lebih cermat, diketemukan rincian-rincian konsepsi usul tentang dasar falsafah negara Indonesia yang disebut pancasila oleh Soekarno itu terdiri dari

Pertama, kebangsaan Indonesia atau nasionalisme.

Kedua, perikemanusiaan atau internasionalisme.

Ketiga, mufakat atau demokrasi.

Keempat, kesejahteraan Sosial.

Dan kelima, Ketuhanan.

Konsepsi usul dasar falsafah negara perlu diolah kembali, karena itu konsepsi yang diajukan Soekarno masih kasar dan tidak mewakili seluruh rakyat. Untuk merumuskan kembali konsepsi pancasila ala Soekarno ini, dibentuklah satu panitia diluar BPUPK, yang dinamakan panita sembilan, karena anggotanya sembilan orang, yaitu Soekarno, Hatta, Maramis, Abikusno Cokrosuyoso, Agus Salim, Kahar Muzakkir, Wahid Hasyim, Ahmad Subardjo, dan Mohammad Yamin. Anggota panitia sembilan, hanya seorang yang beragama Kristen yaitu Maramis. Sedangkan anggota lainnya adalah muslim, ya, boleh dikatakan muslim yang dipengaruhi ideologi nasionalisme seperti Soekarno, Mohammad Hatta, Mohammad Yamin, Ahmad Subardjo, Abikusno Cokropsuyoso.

Pada tanggal 22 juni 1945 lahirlah dari hasil rumusan panitia sembilan ini yang oleh Mohammad Yamin disebut dengan Piagam Jakarta. Dimana dalam Piagam Jakarta itu ada perubahan mendasar dari rincian konsepsi usul Soekarno itu, yakni rincian Ketuhanan ditambah dengan 7 kata yang baru, yaitu dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya. Jadi bunyi lengkapnya rincian itu menjadi Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya.

Kemudian BPUPK ini mengadakan sidangnya lagi yang kedua dari tanggal 10 Juli sampai 16 Juli 1945 untuk membicarakan rancangan Undang Undang Dasar. Dimana setelah mengalami perubahan-perubahan oleh PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) yang dibentuk pada tanggal 7 Agustus 1945, rancangan Undang Undang Dasar inilah yang disahkan dan ditetapkan menjadi UUD 1945 dengan rumusan terakhir pancasila yang tercantum dalam preambule (pembukaan) UUD 1945 pada tanggal 18 Agustus 1945. Dimana bunyi dari pembukaan UUD 1945 adalah "Berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada Ke Tuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia".

Rupanya, apa yang telah dirumuskan dalam Piagam Jakarta itu ada perobahan yang mendasar, yaitu sila Ketuhanan dengan menjalankan syariat Islam bagi para pemeluknya, ternyata telah dirobah. Alasannya karena adanya usul sekelompok orang Kristen yang berasal dari Sulawesi Utara, tanah kelahiran A.A. Maramis yang diajukan kepada Muhammad Hatta yang memimpin rapat PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Kemudian setelah berkonsultasi dengan Teuku Muhammad Hassan dan Kasman Singodimedjo (keduanya bukan anggota panitia sembilan), menghapus tujuh kata dari Piagam Jakarta yang menjadi keberatan dimaksud. Sebagai gantinya, atas usul Ki Bagus Hadikusumo (yang kemudian menjadi ketua gerakan pembaharu Islam Muhammadiyah), ditambahkan sebuah ungkapan baru dalam sila Ketuhanan itu, sehingga berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa dan di cantumkan dalam preambule (pembukaan) UUD'45 sampai sekarang dan tidak boleh seorangpun merubahnya.

Kelihatan dengan jelas dan gamblang dan sejarah telah mencatat, bahwa dalam jangka waktu 24 hari, Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya, dirobah menjadi Ketuhanan Yang maha Esa, sampai sekarang.

Selanjutnya, karena pancasila telah disahkan dan ditetapkan sebagai asas atau dasar negara RI, maka apa yang tercantum dalam GBHN (Garis Besar Haluan Negara) yang ditetapkan dan dibuat oleh KNIP (Komite Nasional Pusat), selama MPR dan DPR belum terbentuk, sebagai badan yang diserahi kekuasaan legislatif berdasarkan pada Maklumat Wakil Presiden No.10 pada tanggal 16 Oktober 1945, yang berisikan pemberian kekuasaan legislatif kepada Komite Nasional Pusat, harus selaras dan sejalan dengan apa yang ada dalam preambule UUD45 atau apa yang disebut dengan pancasila.

Nah sekarang, setelah menyelusuri sedikit asal datangnya konsep pancasila sampai berada dalam Preambule UUD 1945, maka sekarang kita lihat dari sudut syariat Islam.

Kalau memakai kacamata syariat Islam mudah saja melihat dimata letak salahnya pancasila itu.

Pertama, Soekarno ketika membuat konsepsi usul tentang dasar falsafah negara Indonesia yang diberi nama pancasila itu sumbernya bukan diambil dari Islam.

Kedua, rincian Ketuhanan yang dikemukakan dalam konsep usul tentang dasar falsafah negara Indonesia bukan merupakan konsepsi Ketuhanan yang diambil dari Ketauhidan yang ada dalam Islam. Meng Esakan Allah SWT, tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.

Dan tidak seorangpun yang setara dengan Dia. Sebagaimana yang tercantum dalam surat Al-Ikhlas, memurnikan Ke-Esaan Allah, QS, 112: 1-4.

Ketiga, hasil rumusan panitia sembilan yang telah merumuskan konsepsi Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya ternyata dirobah dan kembali dibuang tujuh kata yang merupakan hasil kerja panitia sembilan.

Seterusnya, yang tinggal adalah karena pancasila yang ada sekarang ini, telah kehilangan ruh Islamnya, disebabkan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya telah dibuangnya, dan digantikan dengan yang maha esa.

Nah disini, kita sorot apa itu yang dinamakan dan dimaksud dengan sila Ketuhanan yang maha esa yang ada dalam pancasila itu disorot dari sudut syariat Islam.

Tetapi dalam membahas sila Ketuhanan yang maha esa yang ada dalam pancasila ini harus dihubungkan juga dengan UUD 1945, BAB XI AGAMA, Pasal 29, (1)Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa.(2)Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

Mengapa ? Karena ada hubungannya antara sila Ketuhanan yang maha esa yang ada dalam pancasila dengan UUD 1945 Bab XI Pasal 29 ayat 1 yang berbunyi "Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa"

Mari kita kupas, apa itu yang dimaksud dengan Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa.

Ada masalah yang sangat mendasar yang perlu diketahui, mengapa pancasila dan pasal 29 UUD 1945 tidak diterima oleh Islam ?.

Alasan pertama, adalah kalaulah konsepsi ketuhanan yang maha esa menurut pancasila ini mencakup seperti apa yang telah difirmankan Allah "Katakanlah Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia" (Al-Ikhlash, 1-4), maka itulah yang disebut ajaran ketauhidan, tetapi kalau tidak, maka itulah ajaran falsafah negara pancasila yang semu, kabur dan lemah".

Alasan kedua, adalah berdasarkan kepada Bab XI tentang Agama pasal 29 UUD 1945 yang berisikan, 1.Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa. 2.Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

Apakah yang dimaksud dengan "Negara berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa" dalam Bab XI pasal 29 ayat 1 diatas itu ?

Jawabannya adalah, konsepsi ketuhanan yang maha esa yang bisa diterima oleh seluruh agama, aliran kepercayaan dan adat istiadat yang ada di Indonesia. Artinya, konsepsi ketuhanan yang maha esa yang fleksibel, atau yang seperti karet.

Misalnya aliran kepercayaan yang percaya kepada satu patung yang besar, maka konsepsi ketuhanan yang maha esa dapat diterima, karena satu patung yang besar sama dengan tuhan yang maha esa (satu). Contoh lainnya, misalnya aliran kepercayaan yang percaya kepada satu pohon beringin yang besar, maka konsepsi ketuhanan yang maha esa dapat diterimanya, karena satu pohon beringin yang besar sama dengan tuhan yang maha esa (satu).

Jadi, kalaulah konsepsi ketuhanan yang maha esa ini menurut konsepsi ketuhanan yang maha esa yang ada dalam akidah Islam, maka Negara Pancasila adalah hanya mengakui satu agama yaitu Islam, dan ini adalah jelas bukan yang dimaksud dan dituju oleh Bab XI pasal 29 ayat 1 UUD 1945 tersebut.

Karena konsepsi ketuhanan yang maha esa ini bukan berdasarkan pada konsepsi ketuhanan yang maha esa yang berdasarkan pada ketauhidan yang bersumberkan pada akidah Islam, maka jelas, Islam secara terang-terangan tidak menerima konsepsi ketuhanan yang maha esa yang tercantum dalam Bab XI pasal 29 ayat 1 UUD 1945 yang berbunyi "Negara berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa" dan sila Ketuhanan yang maha esa yang ada dalam pancasila.

Nah, konsekwensi logisnya adalah, karena Islam tidak menerima konsepsi ketuhanan yang maha esa yang ada dalam Bab XI pasal 29 ayat 1 UUD 1945 dan sila Ketuhanan yang maha esa yang ada dalam pancasila, maka isi dari seluruh UUD 1945 adalah bukan dijiwai oleh akidah Islam. Dengan kata lain, bahwa Islam adalah berada di luar UUD 1945, atau UUD 1945 adalah UUD yang sekuler dan sila-sila lainnya yang ada dalam pancasila menjadi gersang dari aqidah Islam (walaupun bunyi sama, tetapi isi lain).

Karena menurut Bab XI pasal 29 ayat 1 UUD 1945 negara bukan berdasarkan konsepsi ketuhanan yang maha esa menurut akidah Islam, maka ayat keduanya yang menyatakan bahwa "Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu" adalah sama dengan penetapan yang ada di negara-negara sekuler. Artinya, bebas bagi setiap warga untuk beragama atau tidak, agama tidak ada sangkut pautnya dengan negara.

Mengapa agama tidak ada sangkut pautnya dengan negara? Karena tidak ada satu ayatpun dalam UUD 1945 yang mengatakan bahwa "Apabila timbul perbedaan pendapat di antara kamu di dalam suatu soal, maka kembalikanlah penyelesaiannya pada (hukum) Tuhan dan (Sunnah) Muhammad SAW" seperti yang terkandung dalam Undang Undang Madinah Bab IV PERSATUAN
SEGENAP WARGANEGARA pasal 23.

Jadi kesimpulannya adalah, Negara Pancasila dengan dasar pancasila dan UUD 1945-nya adalah Negara yang hukumnya bersumberkan kepada yang bukan agama (Islam) atau kepada nilai-nilai sekuler atau bisa dimasukkan kepada golongan Negara Kafir yang sekarang sedang dan masih diperjuangkan untuk tetap dipertahankan".

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

SEMANGAT ORANG-ORANG BERIMAN

Sumber Semangat Orang-orang Beriman: Iman, Cinta, dan Takwa Mereka kepada Allah

Semangat dan gairah orang-orang beriman sangat berbeda dari konsep yang banyak dianut masyarakat jahiliah, yang didasarkan pada kepentingan. Kecintaan orang-orang beriman kepada Allah dan ketaatan mereka kepada-Nya adalah penyebabnya. Mereka tidak merasa terikat dengan kehidupan dunia ini seperti para anggota masyarakat jahiliah, tetapi terikat dengan Allah, Yang Maha Pengasih, yang menciptakan mereka dari bukan apa-apa, dan memberi mereka berbagai sarana. Alasan yang terpenting ialah bahwa orang-orang beriman mengevaluasi peristiwa-peristiwa dengan kesadaran yang jernih. Mereka sadar bahwa Allah menjaga kehidupan seseorang setiap saat, bahwa Dia melindungi semua makhluk, dan bahwa semua makhluk bergantung kepada-Nya. Disebabkan oleh cinta mereka dan ketaatan mereka kepada Allah, mereka berusaha keras untuk memperoleh keridhaan-Nya sepanjang hidup mereka. Hasrat untuk memperoleh ridha Allah merupakan sumber terpenting semangat dan kegembiraan bagi orang-orang beriman. Cita-cita untuk memperoleh ridha Allah dan mencapai surga menjadi sumber energi dan semangat dalam diri orang-orang beriman.

Semangat Orang-orang Beriman Tidak Pernah Padam

"Sesungguhnya orang-orang mukmin hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan berjihad dengan harta dan jiwa mereka demi membela agama Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar." (Q.s. al-Hujurat: 15).

Penjelasan ini menunjukkan bahwa semangat orang-orang beriman bersemayam dalam hati. Hal ini disebabkan karena perjuangan untuk mendukung nilai-nilai mereka berlangsung seumur hidup dan hanya ditopang dengan semangat yang bersumber pada keimanan. Kegigihan orang-orang beriman dalam usaha mereka yang terus menerus juga dinyatakan oleh Nabi Muhammad saw: "Perbuatan yang paling dicintai Allah adalah perbuatan yang dilakukan dengan istiqamah." (H.r. Bukhari).

Faktor lain yang membuat semangat orang-orang beriman tetap kuat dan segar adalah rasa penghargaan yang disertai dengan kerinduan dalam hati mereka, yang mereka alami sepanjang hidup:

"Dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan harapan. Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik." (Q.s. al-A'raf: 56).

Makna dari "Rasa takut dan harapan" ialah sebagai berikut: Orang beriman tidak pernah dapat yakin apakah Allah ridha dengan mereka, dan apakah mereka telah memperlihatkan perilaku moral yang baik, yang membuat mereka layak mendapatkan surga. Karena alasan ini mereka takut akan hukuman Allah dan terus-menerus berusaha untuk menyempurnakan moral. Sementara itu, mereka tahu bahwa melalui gairah dan ketulusan, mereka akan berusaha semaksimal mungkin untuk memperoleh ridha Allah, cinta-Nya dan rahmat-Nya. Mereka mengalami ketakutan dan harapan sekaligus; mereka bekerja keras tetapi tidak pernah merasa usaha mereka cukup dan tidak pernah menganggap diri mereka sempurna, sebagaimana dinyatakan dalam ayat:

"Mereka takut kepada Tuhannya dan takut dengan hisab (perhitungan amal) yang buruk." (Q.s. ar-Ra'd: 21).

Karena itu, mereka memeluk agama Allah dengan semangat besar dan melakukan usaha besar untuk kepentingan ini. Rasa takut kepada Allah menyebabkan mereka tidak lemah-hati atau lalai, dan perasaan ini mendukung semangatnya. Karena tahu bahwa Allah memberikan kabar gembira tentang surga bagi mereka yang beriman dan beramal saleh, sehingga mendorong mereka untuk terus beramal dan memperkuat komitmennya.

Sebagaimana terlihat, konsep orang beriman tentang semangat sangat berbeda dari konsep masyarakat jahiliah. Dibandingkan dengan semangat kontemporer orang-orang kafir, semangat orang beriman merupakan luapan kegembiraan yang dipelihara oleh iman kepada Allah. Dia telah memberikan kepada orang-orang beriman kabar gembira tentang hasil dari semangat yang terus-menerus dalam al-Qur'an:

"Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mukmin, bahwa sesungguhnya mereka memperoleh karunia yang besar dari Allah." (Q.s. al-Ahzab: 47).

Mereka Lebih Dahulu Berbuat Kebaikan

Iman dan ketaatan seseorang kepada Allah tidaklah sama. Allah telah menyatakan bahwa dalam hal keimanan, orang-orang beriman itu memiliki tingkatan-tingkatan tertentu:

"Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih diantara hamba-hamba Kami, lalu diantara mereka ada yang menganiaya dirinya sendiri dan diantara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada pula yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar." (Q.s. Fathir: 32).

Apa yang memberikan kekuatan kepada mereka yang "lebih dahulu" ialah ketaatan mereka kepada Allah dan kerendahan hati mereka di hadapan-Nya. Keimanan mereka yang tulus memberi mereka semangat yang besar untuk berlomba-lomba dalam memperoleh ridha Allah. Dalam al-Qur'an dinyatakan bahwa mereka yang berusaha dan berjuang di jalan Allah dengan harta dan diri mereka akan diberi derajat yang tinggi di sisi Allah:

"Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad demi membela agama Allah dengan harta dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad di atas orang yang duduk dengan pahala yang besar. Yaitu beberapa derajat daripada-Nya ampunan serta rahmat. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Q.s. an-Nisa': 95-6).

Mereka yang "pertengahan" adalah orang-orang yang lebih memilih jalan tengah daripada berusaha keras dengan hati dan jiwa mereka untuk memperoleh ridha Allah. Tak diragukan lagi, kondisi mereka di akhirat tidak akan sama dengan mereka yang lebih dahulu dalam beramal.

Di samping itu, Allah telah menyebutkan kelompok ketiga di kalangan orang-orang Islam: mereka yang tertinggal dalam hal gairah mereka untuk beramal.

"Dan sesungguhnya di antara kamu ada orang yang sangat berlambat-lambat (ke medan pertempuran)." (Q.s. an-Nisa': 72).

Sebagaimana dinyatakan dalam ayat yang dikutip sebelumnya dari Surat Fathir, orang-orang semacam itu menganiaya diri mereka sendiri, dan keadaan mereka di akhirat akan mencerminkan perbedaan itu. Sementara mereka yang lebih dahulu dalam beramal akan memperoleh derajat tertinggi dalam pandangan Allah, tetapi mereka yang lalai akan melihat usaha mereka hilang kecuali jika mereka bertobat dan mengganti kelalaiannya. Dua ayat dari al-Qur'an dapat dikutip sebagai contoh tentang masing-masing keadaan:

"Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad demi agama Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan." (Q.s. at-Taubah: 20).

"Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapuskan pahala amalnya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah." (Q.s. al-Ahzab: 19).

KONSEP GAIRAH DALAM MASYARAKAT JAHILIAH

Siapa yang Termasuk Anggota Masyarakat Jahiliah?

Kebodohan biasanya dipahami sebagai tak berpendidikan dan tak berbudaya. Namun, orang-orang bodoh yang digambarkan sepanjang buku ini adalah mereka yang bodoh mengenai agama Islam, mengenai kebesaran dan Sifat-sifat Allah yang menciptakan mereka, dan mengenai al-Qur'an yang telah diwahyukan untuk umat manusia. Orang-orang seperti itu hidup sesuai dengan informasi yang didiktekan kepada mereka oleh masyarakat yang sarat miskonsepsi, dan bukannya fakta-fakta yang terdapat dalam al-Qur'an. Allah mendefinisikan orang-orang bodoh sebagaimana mereka "agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai." (Q.s. Yasin: 6).

Kehidupan orang-orang yang lalai dari al-Qur'an dan tidak mengetahui hakikat kehidupan dunia, kebenaran tentang mati, dan pengalaman surga dan neraka setelah mati adalah cocok dengan kebodohan mereka. Akibatnya, masalah-masalah yang membuat mereka merasa bahagia, bersemangat dan bergairah didasarkan pada keyakinan yang salah.

Orang-orang yang Bodoh Hanya Bergairah Mengenai Tujuan-tujuan Keduniaan

"Mereka yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka." (Q.s. al-A'raf: 51).

Sebagaimana ditunjukkan dalam ayat di atas, orang-orang dalam masyarakat jahiliah tertipu oleh kehidupan dunia ini. Meskipun tahu mengenai sifat kehidupan dunia yang singkat dan tidak sempurna, mereka lebih menyukai kehidupan yang sementara ini daripada kehidupan abadi di akhirat, karena mereka merasa lebih mudah untuk memperoleh kesenangan dunia dan ragu mengenai kehidupan akhirat. Alasan yang salah ini menganggap bahwa dunia berada dalam jangkauan mereka, sementara akhirat jauh sekali.

Ini jelas merupakan jenis penalaran yang sangat dangkal dan irasional. Bagaimanapun, kehidupan manusia di dunia ini terbatas pada periode waktu yang sangat singkat. Kehidupan manusia yang hanya enam atau tujuh puluh tahun, separonya dihabiskan di masa kanak-kanak dan kehidupan lanjut usia, jelas sangat pendek dibandingkan dengan kehidupan abadi di akhirat. Di samping itu, bahkan sebelum mencapai usia enam atau tujuh puluh tahun, orang mungkin sudah mati karena berbagai alasan. Setiap saat dia bisa mendapati kehidupannya, yang dia anggap berada dalam genggaman tangannya, tiba-tiba dicabut, dan mungkin, pada waktu yang tak diduga-duga, mendapati dirinya telah masuk ke kehidupan abadi di akhirat, meskipun selama ini dia menganggapnya sangat jauh.

Orang-orang bodoh dan yang lalai berusaha untuk mencari kepuasan sebanyak-banyaknya dalam kehidupan dunia, selama periode waktu yang singkat ini, ketimbang berusaha untuk memperoleh ridha Allah dan surga-Nya. Akibatnya, masalah-masalah memberinya semangat terbatas pada tujuan-tujuan kecil menyangkut dunia ini. Faktanya, perasaan yang mereka bayangkan sebagai semangat dan gairah tidak lain adalah kerakusan. Mereka, yang sangat bergairah menjalani kehidupan ini, merasakan kegairahan besar terhadap segala sesuatu dimana mereka mengharapkan akan memperoleh keuntungan dan kondisi kehidupan yang lebih baik. Maka, orang merasakan hasrat kuat untuk menjadi kaya atau memiliki status atau karir yang prestisius. Untuk mencapai tujuan semacam itu mereka melakukan semua bentuk pengorbanan diri dan menahan segala kesulitan.

Kehidupan sehari-hari orang-orang ini terikat dengan kejadian-kejadian yang mengungkapkan pemahaman mereka tentang semangat. Sebagai contoh, untuk memperoleh diploma, prestisius yang akan membuat dirinya memperoleh pengakuan, seorang mahasiswa mungkin menenggelamkan dirinya di tengah buku-buku selama bertahun-tahun. Sadar bahwa ini kondusif bagi keberhasilan, dia rela menghabiskan malam-malam tanpa tidur dan menghindari pergaulan, jika perlu. Hari-harinya dimulai dengan suasana pagi di kendaraan umum yang sesak dan dihabiskan dalam usaha keras, dimana dia menerima dengan senang hati. Namun, dia menolak untuk melakukan pengorbanan yang sama untuk membantu seorang teman karena hal itu tidak memberikan keuntungan duniawi. Apa yang digarisbawahi di sini ialah, bahwa meskipun sebagian besar orang tahu bagaimana menyelesaikan suatu tugas dengan semangat dan gairah, mereka hanya akan melakukannya jika tugas itu sesuai dengan kepentingan mereka. Mereka tidak memperlihatkan ambisi yang sama untuk sesuatu yang akan mendatangkan ridha Allah, dan memperlihatkan ketidakmautahuan jika keuntungan duniawi tak bisa diharapkan.

Mentalitas jahiliah ini, yang hanya didasarkan pada keuntungan duniawi, dapat digambarkan dengan contoh berikut ini. Seorang eksekutif yang perusahaannya di ambang kebangkrutan mencurahkan seluruh energinya, pengetahuannya, sarana dan waktunya untuk menyelesaikan masalah itu. Tetapi karyawannya tidak merasakan kegairahan yang sama untuk menyelamatkan perusahaan dan kecil kemungkinannya untuk mencari solusi karena dia bukan orang yang akan mengalami kerugian langsung ketika perusahaan bangkrut. Sebagaimana terlihat, keuntungan duniawi umumnya melandasi semangat dan tekad yang dirasakan oleh para anggota masyarakat jahiliah. Sebesar mana keuntungannya, sebesar ambisi yang mereka miliki.

Gairah Para Anggotanya Hanyalah Keinginan Sementara

Konsep semangat dalam masyarakat jahiliah terlihat dalam kegairahannya dalam urusan keduniaan. Orang-orang mungkin mengalami gejolak minat dan semangat terhadap masalah tertentu dan kemudian suatu hari perasaan ini lenyap dengan tiba-tiba. Dalam masyarakat jahiliah hampir semua orang meluncurkan berbagai proyek dengan antusias. Namun, mereka meninggalkan proyek itu tak lama kemudian, hanya karena jenuh dan malas untuk melanjutkan. Sebagai contoh, sebagian besar orang yang ingin bermain musik segera kehilangan minat dan meninggalkan kursus. Seseorang yang ingin membantu orang yang membutuhkan dan segera memulai kerja amal, tak lama kemudian, mungkin ia akan kehilangan semangat dan menghentikan pekerjaannya. Karena orang-orang semacam itu tidak benar-benar berpegang pada cita-cita mulia, membantu orang miskin, melakukan perbuatan baik atau memperluas wawasan dalam bidang tertentu terbukti hanya merupakan tingkat sesaat. Menghabiskan hidup sehari-hari, dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka yang dekat, dan memperoleh penghargaan orang lain sering sudah cukup untuk memuaskan orang-orang ini. Tidak ada sesuatu yang lebih tinggi dari itu yang bermakna bagi mereka. Karena itu, mereka kadang-kadang memberikan perhatian pada beberapa masalah yang tidak berkaitan dengan kebutuhan dan kepentingan mereka sendiri, tetapi tak lama kemudian kepentingan mereka dikalahkan oleh kejenuhan dan kemonotonan.

Selama orang percaya usahanya akan memberikan kebaikan dan keuntungan baginya, semangat dan gairahnya tidak pernah padam. Namun tidak satu pun tujuan yang hendak dicapai oleh orang yang melalaikan akhirat tidak layak untuk diberi semangat terus-menerus. Jika menjumpai kesulitan sedikit saja, kegagalan atau kritik, dia mungkin tiba-tiba merasa letih dan meninggalkan tujuannya. Di samping itu, dia mungkin menjadi putus asa. Pemikiran negatif seperti, "Saya sudah bersusah-payah untuk mencapainya tetapi gagal," menyeret dia ke dalam pesimisme dan memadamkan semangatnya.

Orang yang telah bertahun-tahun memendam ambisi untuk menjadi seorang arsitek mungkin tiba-tiba kehilangan semangat ketika dia menjumpai kesulitan-kesulitan dalam menggambar bangunan. Atau orang yang tertarik untuk melukis mungkin kehilangan semua minatnya setelah beberapa kali mencoba. Sering kali, komitmen mereka yang terlibat dalam kerja sukarela di organisasi amal dipuji di koran-koran dan oleh teman-temannya. Kesenangan yang diperoleh dari melakukan kerja amal, perasaan senang yang ditimbulkan oleh prosedur kerja itu, mungkin menarik orang lain. Namun, mereka yang terlibat dalam kerja amal untuk memperoleh prestise di masyarakat mungkin kehilangan minat setelah beberapa lama, dan satu-satunya cara untuk mempertahankan semangat ialah menjadikan usaha mereka diketahui publik dan memujinya. Yakni, mereka harus menerima manfaat, sekalipun manfaat psikologis; kalau tidak, bahkan bangun pagi di akhir pekan terasa sulit dan menjadi alasan untuk meninggalkan kegiatan-kegiatan seperti itu.

Namun, orang-orang beriman, yang terlibat dalam perbuatan baik dan membantu orang lain sebagai alat untuk memperoleh ridha Allah, tidak pernah kehilangan semangat mereka. Menghadapi kesulitan tidak akan membuat mereka meninggalkan cita-cita mereka. Sebaliknya, karena tahu bahwa adanya kesulitan-kesulitan menjadikan pekerjaan semacam itu lebih prestisius di mata Allah, mereka memperoleh kesenangan dan merasakan semangat yang lebih besar.

SEMANGAT

Semangat dan gairah adalah perasaan yang sangat kuat yang dialami oleh setiap orang. Namun, tujuan utama membicarakan konsep semangat dalam buku ini ialah untuk menguak perbedaan antara semangat yang dialami dalam masyarakat secara umum dan semangat yang dibicarakan dalam al-Qur'an kepada manusia.

Semangat, dalam pengertian umum, digunakan untuk mengungkapkan minat yang menggebu dan pengorbanan untuk meraih tujuan, dan kegigihan dalam mewujudkannya. Apakah penting atau tidak, setiap orang punya tujuan yang ingin dia raih sepanjang hidupnya. Antusiasme, yang sering ditujukan untuk keuntungan material, juga mengemuka ketika nafsu keduniaan dibicarakan. Sebagian orang berusaha untuk menjadi kaya, untuk memiliki karir yang cemerlang atau jabatan yang prestisius, sementara yang lain berusaha untuk tampil lebih unggul atau untuk meraih prestise, penghormatan, dan pujian.

Sebagai contoh, setiap orang memahami tekad yang ditunjukkan oleh seorang siswa SMU untuk lulus ujian masuk perguruan tinggi negeri (UMPTN), antusiasme seseorang yang diterima untuk menduduki jabatan yang diinginkan di sebuah perusahaan, atau ambisi dan upaya yang dilakukan untuk menggolkan transaksi bisnis yang diharapkan akan sangat menguntungkan. Ada satu ciri umum yang menonjol dalam semua ini - antusiasme menimbulkan karakter kuat dan khas pada seseorang yang kecil kemungkinannya akan muncul jika tidak ada semangat. Risiko-risiko yang dalam keadaan normal dihindari akan diambilnya demi mewujudkan suatu tujuan. Pengorbanan diri yang belum pernah dilakukan sebelumnya, dilakukan tanpa ragu-ragu. Memang, orang mungkin akhirnya memperoleh kekuatan yang besar baik dalam pengertian material dan spiritual dengan menggunakan pengetahuannya dan kemampuannya secara maksimal.

Namun, semangat sebagian besar orang tidak bertahan seumur hidup karena tidak punya landasan yang kuat. Sering kali tidak ada tujuan khusus yang akan mempertahankan semangat dalam semua keadaan dan memberikan kekuatan kepada mereka. Satu-satunya orang yang tidak pernah kehilangan semangat di hati mereka sepanjang hidup adalah orang-orang beriman, karena sumber semangat mereka ialah keimanan kepada Allah dan tujuan utama mereka ialah memperoleh keridhaan Allah, rahmat-Nya dan surga-Nya.

Sebelum meneruskan pembicaraan tentang masalah ini, akan sangat membantu jika kita mendefinisikan konsep semangat yang menonjol di masyarakat Jahiliah, di mana orang tidak mengenal al-Qur'an atau hidup dengannya.

HOTSPOT

Hotspot merujuk pada tempat-tempat tertentu (biasanya tempat umum) yang memiliki layanan internet dengan menggunakan teknologi Wireless LAN, seperti pada perguruan tinggi, mall, plaza, perpustakaan, restoran ataupun bandara.

Layanan internet seperti ini, ada yang berbayar dan yang tidak (gratis)

Sejarah Hotspot

Konsep ini pertama kali dikemukakan pada tahun 1993 oleh Bret Stewart sewaktu konferensi Networld dan Interop, di San Fransisco.[1] Dengan pemanfaatan teknologi ini, setiap orang dapat mengakses jaringan internet melalui komputer/laptop/HP/PDA yang mereka miliki di lokasi-okasi hotspot ini tersedia, tentunya perangkat komputer/laptop/HP/PDA tersebut harus memiliki teknologi wi-fi.[1] Pada umumnya peralatah wi-fi hotspot menggunakan standarisasi WLAN IEEE 802.11b atau IEEE 802.11g.[1] Teknologi WLAN ini mampu memberikan kecepatan akses yang tinggi hingga 11 Mbps (IEEE 802.11 b) dan 54 Mbps (IEEE 802.11 g) dalam jarak hingga 100 meter

Beberapa komponen dalam hotspot adalah :[2]


Tipe hostspot


Ada beberapa jenis hotspot yang biasa digunakan, yaitu:[3]

  • Hotspot gratis sebagai tambahan pelanggan umum biasanya dioperasikan di hotel, di lobby hotel, di ruang konferensi (conference room), kedai kopi (coffe shop), atau di kafe. Kadang hotspot jenis ini merupakan instalasi semi permanen, di acara pameren komputer atau konferensi / seminar komputer.
  • Hotspot yang dibayar langsung ke pemilik gedung, biasanya di ruangan hotel, restoran, atau kedai kopi (coffe shop). Tidak semua hotel mampu memberikan servis wi-fi gratis. Mereka mengambil kebijakan untuk memberikan servis berbayar kepada pengguna hotspot untuk menalangi biaya leased line atau tak terbatas (unlimited) ADSL ke Internet.
  • Hotspot berbayar ke operator wi-fi hotspot, misalnya Boingo, iPASS. Operator wi-fi hotspot ini merupakan jaringan internasional yang global dengan banyak sekali pengguna yang berpindah tempat (mobile) secara internasional. Jenis hotspot ini biasanya akan lebih menarik bagi mereka yang memiliki banyak pengguna yang datang dari manca negara.

Tentunya sebuah hotspot dapat merupakan gabungan dari beberapa tipe hotspot menjadi satu kesatuan, tidak harus menyediakan hanya satu tipe saja. Jadi bisa saja, hotspot berbayar ke pemilik gedung dan berbayar ke operator wi-fi hotspot dioperasikan pada sebuah hotspot.

USAHA SETAN UNTUK MEMATAHKAN SEMANGAT ORANG BERIMAN

Di halaman-halaman sebelumnya telah dinyatakan bahwa semangat orang beriman tidak pernah padam dan selalu segar dan kuat dan bahwa sumber keberlangsungan dan kegigihan gairah orang beriman adalah iman yang tulus. Karena itu, setan berusaha keras untuk memperlemah tekad orang beriman dan menggoyahkan gairah dan semangat mereka. Tujuan setan di dunia ini ialah menipu orang dan mendorong mereka kepada kehancuran dengan membisikkan saran-saran. Misi jahat setan diceritakan dalam al-Qur'an berikut ini:

"Dan saya benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong." (Q.s. an-Nisa': 119).

Setan mendekati orang-orang beriman dengan berbagai cara, sebagaimana dilakukan terhadap semua orang, dan berusaha untuk menjadikan hal-hal yang baik tampak salah. Dengan menggambarkan masalah-masalah sebagai tak terpecahkan, setan ingin memalingkan manusia dan mencegah mereka untuk menyelesaikan amal yang baik. Dia berusaha untuk membisikkan keputusasaan, dengan mengemukakan bahwa tugas mereka sulit, dan dia menggoda agar lalai, mendorong untuk putus asa dan menginginkan mereka memperlihatkan kehendak yang lemah. Namun, al-Qur'an menekankan bahwa semua usaha setan dan rekayasanya gagal:

"Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal apa yang dijanjikan setan hanyalah tipuan belaka." (Q.s. an-Nisa': 120).

"Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah." (Q.s. an-Nisa': 76).

Mereka yang dilukiskan al-Qur'an sebagai orang-orang yang tidak punya keimanan yang utuh dapat dengan mudah jatuh ke dalam perangkap setan, karena mereka tidak menggunakan ilmu dan kesadaran. Orang-orang semacam itu mengaku memiliki iman, tetapi tidak pernah merasakannya jauh di kedalaman hati mereka. Panggilan setan dan gaya hidup yang disodorkan tampak menggiurkan, sehingga mereka mengikutinya dengan senang. Namun, sebagaimana biasanya, setan hanya menipu orang-orang supaya jatuh ke neraka, tempat hukuman abadi. Orang-orang beriman tahu bahwa tipu daya setan itu lemah dan mereka juga tahu jenis tipu daya yang digunakan setan ketika mendekati mereka. Mereka tahu cara-cara untuk mengalahkannya dan tidak pernah membiarkan setan mematahkan semangat karena mereka membentuk kehidupan mereka sesuai dengan ajaran al-Qur'an. Sikap tegas dan tulus orang beriman digambarkan sebagai berikut:

"Dan jika kamu ditimpa suatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya." (Q.s. al-A'raf: 200-1).

Orang-orang beriman meminta perlindungan kepada Allah dari semua kerusakan, dan dengan demikian, tidak terpengaruh oleh bisikan setan yang mendorong mereka kepada kemalasan dan kecerobohan. Sebuah contoh tentang doa orang beriman dan permintaan perlindungan kepada Allah tampak dalam doa Nabi Muhammad saw.: "Ya Allah, aku mohon perlindungan-Mu dari kesedihan, dari kegagalan dan kemalasan, dan dari beban utang dan dari dikuasai oleh manusia." (H.r. Bukhari-Muslim).

Powered By Blogger